Doa Rasulullah S.A.W

Biasakan membaca doa ini.

 

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Ya Allah! Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.

Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.

Berikan pula keyakinan yang dengannya terasa ringan bagi kami segala musibah yang menimpa kami.

Berilah kenikmatan dan manfaat kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami.

Jadikanlah semua itu sebagai pewaris dari kami.

Jadikan pula balasan kami kepada orang yang menzalimi kami dengan balasan yang sesuai untuknya (tidak melampaui batas).

Tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami.

Jangan Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami.

Jangan pula Engkau jadikan dunia menjadi tujuan dan keinginan kami yang terbesar.

Jangan sampai dunia menjadi puncak dari ilmu kami.

Jangan jadikan orang yang tidak menyayangi kami dapat menguasai kami.”

Untaian doa yang bermakna luar biasa, bukan? Cuba kita cermati baik-baik errtinya. Sebuah doa ma’tsur (ada atsarnya) yang pernah dilantunkan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara sekian banyak doa yang lainnya.

Sahabat yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, menyampaikan kepada kita tentang pengamalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap doa di atas,

قَلَّمَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقُوْمُ مِنْ مَجْلِسٍ، حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلآءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ
“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari majelis sampai beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabat beliau.”

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3502) dan al-Hakim (1/258).

At-Tirmidzi berkata tentang hadits ini, “Hasan gharib”.

Al-Hakim menyatakan sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Hadits ini derajatnya sahih menurut al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, Shahih al-Jami’, dan al-Misykat.

Maksud ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma di atas adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kerap mengucapkan doa-doa di atas sebelum beliau berdiri meninggalkan majelis. Hanya sesekali beliau tidak membaca doa-doa tersebut.

Kandungan Doa

Coba kita tengok kalimat yang terkandung dalam doa di atas.

Rasa takut yang menghalangi untuk berbuat maksiat
Dalam senandung doa yang agung di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dianugerahi khasyah, rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebab, kalbu yang berperan sebagai pimpinan bagi tubuh[1] itu bila dipenuhi dengan khasyah. Kalbu akan mengekang anggota tubuh yang lain dari berbuat maksiat. “Jadikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya dapat menghalangi dan mencegah kami untuk berbuat berbagai maksiat kepada-Mu.”

Sebaliknya, kalbu yang kosong dari khasyah akan berselancar dalam maksiat. Tiada rasa takut yang mengekang dan tidak pula khawatir akan akibat yang akan diperoleh. Yang ada di benak hanyalah bagaimana memuaskan jiwa dengan hawa nafsu syahwatnya.

Ketaatan yang bisa menyampaikan ke surga
Berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam untaian doa indahnya, “Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang dengannya dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu.”

Surga adalah cita-cita tertinggi dan teragung setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah negeri asal yang dirindukan, tempat tinggal awal bapak manusia, Adam ‘alaihissalam.

Syurga dengan segala kenikmatannya tidaklah bisa dicapai dengan amalan ketaatan semata, karena amalan kita tidak sebanding dengan nikmatnya surga. Amal kita terlalu sedikit nilainya untuk membeli surga. Bayangkan, kita beramal sedikit lagi ringan, sementara ganjaran yang disiapkan di surga demikian besar.

Satu contohnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Shalat dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR Muslim no. 1685)

Karena pahalanya yang sangat besar bersamaan dengan ringannya shalat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyatakan,

لَهُمَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا
“Dua rakaat tersebut lebih aku cintai daripada (perhiasan) dunia seluruhnya.” (HR. Muslim no. 1686)

Contoh lain adalah hadits tentang dilipatgandakannya amalan kebaikan sebagaimana disampaikan lewat sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya beliau menyatakan,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمَائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ …
“Barang siapa berkeinginan untuk berbuat satu kebaikan namun dia tidak melakukannya, niscaya Allah akan mencatat keinginan baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berkeinginan berbuat satu kebaikan lalu dia melakukannya, niscaya Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan di sisi-Nya, (dan Allah akan melipatgandakannya) sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat-lipat yang sangat banyak… (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Amal ketaatan hanyalah sebab, adapun masuk surga bisa tercapai berkat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada si hamba. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati si hamba karena dia telah menempuh sebab untuk masuk ke surga-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun memasukkannya ke dalam surga.

Karena surga itu hanya dicapai dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala , seorang hamba tentu tidak layak merasa telah berbuat sesuatu yang besar dengan amalannya dan merasa pantas masuk surga karena telah beramal ini dan itu.

Sungguh, apa pun yang kita lakukan dan bagaimana pun besarnya amalan ketaatan kita, tetap saja tidak sebanding dengan ganjaran yang diperoleh di surga. Allah subhanahu wa ta’ala memberi lebih banyak dan sangat banyak daripada apa yang kita lakukan.

Keyakinan yang menjadikan semua musibah terasa ringan
Yang diminta selanjutnya adalah ‘keyakinan’. Yakinlah bahwa tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakinlah bahwa tidaklah menimpa kita suatu musibah kecuali telah ditetapkan-Nya dalam takdir-Nya.

Apa yang ditakdirkan-Nya tidak lepas dari hikmah dan maslahat bersamaan dengan adanya tambahan pahala untuk si hamba yang terkena musibah.

Dengan keyakinan seperti ini terasa mudahlah semua musibah dunia, dikarenakan yakin adanya balasan pahala. Si hamba yang yakin tidak menjadi gundah-gulana dengan apa yang menimpanya dan tidak pula terlalu bersedih.

» Read more